Kuliah

VALIDASI TEMAN SEJAWAT SEbAGAI EVALUASI PROGRAM PEMbELAJARAN


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah kita mempelajari akreditasi sebagai penilaian program pendidikan mengenai kegiatan yang dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap program pendidikan swasta. Pada bab ini akan disajikan uraian tentang jenis penilaian program yang lain yang disebut dengan istilah Validasi Teman Sejawat dimana Validasi Teman Sejawat yang disingkat menjadi VTS merupakan sesuatu yang erkaitan dengan kegiatan penilaian program lembaga.
Validitas Teman Sejawat masuk dalam kategori Supervise Pendidikan yang ada teknik-teknik lain seperti kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan priadi dan saling berkunjung mengunjungi. Validasi teman sejawat, satu jenis kegiatan supervisi yang telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 1979 dan saat ini telah dilaksanakan di sekolah pendidikan guru. Validasi teman sejawat adalah satu jenis supervisi yang dilakukan oleh teman- teman sejawat ( sesama guru, lembaga dan orang- orang yang telah berkecimpung di dalam profesi ke pendidikan)
http://growol.blogspot.com/2011/01/supervisipendidikan.html#ixzz2C4YacA00
Dengan adanya berbagai macam teknik-teknik supervise pendidikan perlunya kita memahami apa yang disebut dengan validitas teman sejawat, komponen dan mekanisme validitas teman sejawat dan perlunya tata cara kerjanya validitas teman sejawat.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian VTS dan perbandingan dengan Supervisi?
2. Apakah komponen dan mekanisme dari VTS?
3. Bagaimana tata kerja VTS dalam penilaian program pendidikan?

C. Tujuan
1. Pembaca jadi lebh mengetahui tentang VTS baik dari pengertian sampai dengan mekanisme dan komponen
2. Pembaca jadi lebih mengetahui tata kerja VTS dalam penilaian program pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian VTS dan Perbandingan dengan Supervisi
Validasi Teman Sejawat yang akan kita sebut dengan VTS ini terbagi menjadi dua kata, yaitu istilah “Valid” dan “Teman Sejawat”. Tentunya kita pernah mendengar istilah Valid yaitu ketika kita membicarakan alat ukur pada umumnya, valid ialah tepat, sesuai, pas, sahih. Validasi ialah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengusahakan sesuatu agar menjadi valid, sahih dan dapat dipercaya. Sementara teman sejawat ialah dalam bahasa inggris sering disebut “Peer” ialah teman seprofesi yang setingkat, bukan atasan dalam hierarki organisasi, administrasi, ataupun pemerintahan. Jadi validasi teman sejawat adalah pengenalan terhadap prestasi yang telah dicapai dan kelemahan lembaga oleh teman seprofesi. Dalam hal ini validasi teman sejawat dilakukan oleh suatu tim, terdiri dari teman-teman sejawat yang sengaja disusun untuk melaksanakan tugas validasi tersebut.
Kegiatan VTS sebenarnya sudah terlaksana sejak tahun 1980. Pada saat itu diadakan proyek kegiatan di Indonesia dengan tema validasi teman sejawat yang diselenggarakan oleh Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan VTS merupakan Upaya Peningkatan mutu LPTK atau Lembaga Pendidikan Tingkat Pendidikan yang sudah terlaksana sejak tahun 1977 yang memusatkan perhatian pada pembinaan dan perbaikan.
VTS sering dikaitkan dengan Supervisi dibanding dengan pengawasan ataupun penilikan. Pengawasan dan penilikan dulu merupakan julukan supervisi dalam pendidikan sebelum tumbuh rasa demokrasi. Karena tumbuhnya rasa demokrasi akhirnya kata pengawasan dan penilikan dirubah menjadi pembmbingan, pengarahan, dan penuntutan. Dalam hal ini kita akan mengkaji sedikit mengenai Supervisi.
Supervisi juga berasal dari dua kata “Super” dan “Visi”. Super berarti atas, dan visi berarti lihat, tilik, atau awasi, dari arti kata secara morfologis diartikan bahwa seorang yang melakukan tindakan supervisi pastilah mempunyai posisi di atas atau punya kedudukan lebih tinggi dari orang yang di supervisi. Supervisi pendidikan ialah pembinaan yang berupa bimbingan atau tuntutan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya. Seorang supervisor tentunya harus mempunyai pengalaman atau hal yang lebih seperti kemampuan sosial, profesional, dan personal. Dengan demikian supervisi ialah kegiatan mengamati, mengidentifikasi mana hal-hal yang sudah benar, mana yang belum benar, dan mana pula yang tidak benar, dengan maksud agar dapat dengan tepat mencapai tujuan kegiatan yang dimaksud.
Validasi Teman Sejawat dan Supervisi mempunyai kesamaan pada tujuan yaitu membantu para pelaksana pendidikan untuk mengetahui kelemahannya sendiri agar dapat selanjutnya mengadakan perbaikan. Dalam hal ini VTS dan Supervisi sama-sama juga tidak saling mencari kesalahan dan lebih pada usaha untuk membantu perbaikan dan juga peninjauan terhadap lembaga dan melihat pelaksanaan sudah sesuai dengan ketentuan atau belum.
Selain kesamaan pada VTS dan Supervisi, pastilah ada perbedaan di antara keduanya, perbedaan mendasar terletak pada pelaksananya. Pelaksana VTS ialah orang-orang dari lembaga lain yang berkedudukan sejajar dengan lembaga pendidikan yang divalidasi, dan orang tersebut meupakan teman sejawatnya. VTS coba menghindari predikat menakutkan yang ada pada supervisi. Pelaksana supervisi tentunya pengawas dari organisasi struktural yang ada di atas lembaga yang bersangkutan, terdiri dari satu atau beberapa orang saja. Walaupun nampaknya kegiatan supervisi sudah menjadi lebih baik, tetapi pelakasananya masih pihak atas, sehingga predikat “menakutkan” sangat melekat pada supervisi, yaitu “memberikan nilai menentukan status”.
Perbedaan selanjutnya yaitu pada waktu pelaksanaan, VTS dilaksanakan dalam waktu beberapa hari dengan menjumpai pimpinan lembaga, dosen atau guru, mahasiswa atau murid, dan personel lain yang ikut membantu melancarkan kegiatan lembaga. Supervisi dilaksanakan dalam waktu singkat hanya beberapa jam atau maksimal satu hari dan hanya orang yang punya jabatan tinggi yang dijumapi supervisor, seperti pimpinan lembaga.
Kemudian pada perolehan data dan tindak lanjut, VTS tentunya mendapatkan data setelah melakukan validasi, semua data baik yang positif maupun negatif tetap dikumpulkan karena perolehan yang kurang baik justru merupakan data berharga untuk lembaga meningkatkan diri, membenahi kelemahan pada patokan. Sedang Supervisi data yang diperoleh masih cenderung tentang hal yang baik sehingga kurang baik pada waktu pelaksanaan supervisi disembunyikan.
Terakhir perbedaan ada pada alat pelengkap, Supervisi selalu datang dengan membawa pengamat supervisi yang sudah dibakukan dan dikeluarkan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan. Format tersebut diisi dengan data yang ditemukan lembaga. Pelaksana harus sudah mempelajari dulu keadaan lembaga dengan mempelajari bahan tertulis disebut Profil Lembaga. Pelaksana datang ke lembaga hanya mengecek, mencocokan apa yang dibaca dengan di lapangan. VTS mempunyai alat pelengkap pedoman standar LPTK. VTS hanya usaha perintisan dari LPTK untuk mempertahankan dan mengembangkan kualitas pendidikan guru melalui penolaian teman sejawat. Dengan kegiatan VTS dengan rutin diharapkan diperoleh kualitas lembaga sesuai harapan, dengan mempelajari tujuan program pendidikan, kurikulum, dan kelengkapan lain, dan diperoleh pula kualitas kerja di dalam lembaga dengan mendorong evaluasi internal dan pengembangan program secara terus-menerus.

B. Komponen dan Mekanisme VTS
1. Komponen
VTS dalam melangsungkan kegiatan, memerlukan komponen yang menunjang kegiatan, ada dua jenis komponen, yakni komponen pelaksana dan komponen instrumen.
a. Komponen Pelaksana, kegiatan di dalam komponen ini VTS butuh tiga komponen pokok yaitu:
a) Fasilitator
Adalah suatu tim yang berkedudukan di luar lembaga non dinas dan non struktural yang mempunyai tugas pokok sebagai koordinator pelaksanaan validasi. Fasilitator bukanlah lembaga struktural agar tidak mempunyai hubungan resmi sebagai penentu status. Disini nampak adanya perbedaan jelas antara akreditasi dengan validasi. Tugasnya antara lain :
– Melatih calon validator dengan ketrampilan teknis administratif yang diperlukan
– Menentukan pelaksana,waktu, dan hal lain yang berkenaan dengan pelaksanaan validasi.
– Menerima laporan hasil validasi.
– Mengingatkan lembaga yang telah divalidasi dan mengadakan kesepakatan dengan tim validator akan “janji” untuk meningkatkan kualitas lembaga.
b) Tim Penulis Profil Lembaga
Adalah sekelompok orang terdiri sejumlah staf pengajar dan /atau karyawan lembaga yang akan divalidasi dan menyusun buku laporan mengenai lembaga yang bersangkutan. Hal penting disini dalam bagian penyusunan bahan yang disajikan dalam profil lembaga tidak ada yang terlewat untuk dituliskan, tapi juga tak berlebihan. Tiga hal yang menunjang keberhasilan menulis pofil, yakni ahli dalam bidangnya secara akademik, mempunyai pengalaman cukup bidang administrasi, dan mempunyai kemampuan menulis.
c) Tim Validator
Adalah sekelompok yang datang dai lembaga lain untuk meneliti keberhasilan lembaga kelebihan dan kelemahan di dalam memenuhi tugas mencapai tujuan instructional. Hal yang harus diingat untuk menentuka tim yaitu ;
– Jumlah anggota tim untuk tugas penelitian lembaga.
– Harus mempunyai keahlian tertentu yaitu ahli dalam bidang yang diteliti, ahli dalam cara meneliti, kepribadian tenang, jujur, objektif.
Tugas utama tim validator :
– Mempelajari profil lembaga
– Menyusun instrumen untuk mengumpulkan data mengenai aspek yang dinilai.
– Mengunjungi ke lembaga yang divalidasi.
– Mengolah data penemuan validasi.
– Menyusun hasil olahan untuk direkomendasikan pada lembaga.
– Menyusun lap validasi yang akan disampaikan pada fasilitator untuk pertanggungjawaban pada fasilitator.
d) Komponen Instrumen
Adalah sarana penunjang yang digunakan oleh kelompok pelaksana dalam melaksanakan tugas melakukan validasi. Tiga instrumen penting

b. Profil lembaga
Adalah sebuah buku lap lembaga yang memuat informasi tentang lembaga. Ada enam komponen di dalam informasi profil LPTK ;
1. Komponen pengelola (Manajemen)
a. Pengelola
b. Pogram
c. Organisasi
d. Pembinaan dan pengawasan
2. Komponen kurikulum
a. Susunan bahan pendidikan
b. Pengelolaan program belajar-mengajar
c. Bimbingan dan penyuluhan
d. Administrasi sekolah
e. Praktikum
f. Praktek pendidikan
3. Komponen guru/dosen
a. Mutu dan jumlah
b. Pengembangan kemampuan
c. Hub guru dengan sekolah pemakai lulusan
d. Tanggung jawab
4. Komponen siswa/mahasiswa
a. Ketertiban
b. Kegiatan intrakurikuler
c. Kegiatan ekstra kulikuler
5. Komponen sarana prasarana
a. Bangunan dan prasarana lain
b. Ruang belajar dan kerja
c. Perabot
d. Perpustakaan
e. Alat bantu pendidikan
f. Laboratorium
g. Pusat bimbingan dan penyuluhan
6. Komponen Evaluasi
a. Evaluasi Program
b. Seleksi calon siswa dan mahasiswa
c. Evaluasi terhadap Prestasi belajar siswa atau mahasiswa

c. Standar LPTK
Adalah seperangkat patokan yang sudah dibakukan dan disepakati sebelumnya yang dijadikan ukuran keadaan sesuatu komponen program LPTK yang divalidasi. Untuk menentukan status komponen, validator harus membandingkan dengan keadaan yang ideal yang digambarkan di dalam standar. Keadaan yang ideal untuk setiap komponen LPTK dirumuskan bentuk pernyataan.
Keadaan ideal juga berarti komponen LPTK diharap menghasilkan lulusan yang profesional dan bermutu tinggi, karena standar maka dijadikan tolok ukur bagi semua LPTK.
d. Pedoman Penggunaan Standar LPTK
Inti dari proses validasi teman sejawat adalah site-visit. Dalam kegiatan ini validator mendatangi LPTK untuk melihat keadaan lapangan, mengumpulkan data, kemudian dibandingkan dengan standar LPTK. Membandingkan keadaan yang disebut dalam enam komponen dengan standar dan menentukan status keadaan yang dilihat kadang seringkali menuai hardikan oleh subjektivitas penilai. Untuk menghindarinya, validator dilengkapi alat bantu “pedoman standar LPTK” yang berisi idikator yang seperti apa yang harus dicari dan dikumpulkan, sumber apa yang mengandung informasi mengenai indikator tersebut, dengan teknik atau metode apainformasi atau data tesebut dapat diperoleh, dan tolok ukur dan besarnya nilai sesuai keadaan data.
2. Mekanisme
Secara garis besar pentahapan di dalam mekanisme VTS adalah ;
a. Tahap Pertama : “Internal Evaluation and Profile”
Setiap lembaga yang akan divalidasi menyusun suatu laporan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan operasional yang menunjang tujuan institusionalnya. Hal yang dituliskan dalam laporan berasal dari kegiatan evaluasi internal yang dilakukan cermat dan jujur. Pastilah buku ini spesifik dan berisi tentang keadaan lembaga disebutlah profil lembaga.
b. Tahap kedua : “External Validation”
Kelompok teman sejawat sudah ditunjuk, dikenal sebagai Tim Validator mengadakan kunjungan ke lembaga. Profil lembaga harus sudah dikirim ke tim validator sebelum kunjungan agar tim punya gambaran tentang lembaga yang dikunjungi. Sehingga tim validator datang hanya mengecek ulang.
Data kebenaran dari isi profil lembaga VTS tak perlu diragukan lagi. Pofil lembaga ditulis berdasarkan keadaan yang sebenarnya, dengan kelebihan dan kekurangan, dan menurut hasil penilaian internal. Bila penulis profil tak memberi data dengan benar, maka lembaga tidak akan memperoleh masukan positif dari validator.
c. Tahap ketiga : “Rekomendasi”
Tim validator menyampaikan penemuannya kepada pihak lembaga yang divalidasi. Apa yang disampaikan tim validator merupakan hasil nyata tetapi sudah dibandingkan dengan kiteria atau tolok ukur yang ditentukan. Kriteria atau tolok ukur tersebut merupakan satu ukuran yang disusun dan dibakukan.
d. Tahap keempat : “Penyampaian Jawaban”
Lembaga yang divalidasi memberikan tanggapan mengenai apa yang direkomendasikan validator. Terjadilah tanya jawab dan diskusi dengan teman sejawat dalam situasi kekeluargaan. Dalam kesempatan inilah terjadi tukar pikiran dan pengalaman mengenai bagaimana memecahkan sesuatu masalah.
Di dalam tahap respon ini dilakukan kesepakatan antara pihak lembaga dengan validator mengenai hal yang akan dibenahi dan juga bagaimana dibenahi , di dalam perkiraan kurun waktu yang disepakati pula sesuai dengan kemampuan lembaga.

C. Tata Kerja VTS
Pada bagian terakhir ini akan disampaikan secara lebih operasional pelaksanaan VTS, telah dijelaskan diatas tentang mekanisme yang disampaikan menurut inti kegiatan, maka pada bagian ini penyajian menurut waktu pelaksanaan. Tata kerja VTS terjabar dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyerahan laporan.

1. Tahap Persiapan
a) Fasilitator
Fasilitator menerima permintaan dari lembaga agar divalidasi. Di dalam VTS prakarsa pengamatan dan pembinaan diharapkan datang dari pihak lembaga yang merasa butuh divalidasi. Atas dasar permintaan disertai deskripsi singkat, fasilitator menunjuk calon validator dengan jumlah dan komposisi yang sesuai.
b) Tim Penulis Profil
Saat lembaga megajukan permintaan validasi pada fasilitator, diharapkan lembaga mempersiapkan diri dengan evaluasi internal dengan menuliskan keadaan lembaga. Ketika fasilitator memberi tanggapan dan sudah menunjuk calon validator, kemudian lembaga serahkan profil lembaga pada fasilitator, diteruskan ke calon validator.
c) Tim Validator
Tim validator megadakan pertemuan untuk membagi tugas, kadang tak jarang bahwa ketua tim, sekretaris, dan anggota pada waktu penunjukan sudah diberi tugas, setelah dibagi tugas masing-masing mempelajari profil lembaga yang akan divalidasi agar punya gambaran lebih dulu.
d) Tahap Pelaksanaan
Yang banyak memegang peranan disini ialah tim validator dengan kegiatan pokok site-visit, sementara komponen fasilitator tak melakukan apapun.
e) Rapat Pendahuluan.
Di rapat pendahuluan, mereka saling berkenalan dan mengadakan pembagian tugas dan juga menentukan jadwal kegiatan kunjungan dan menentukan respondensi yang akan dijumpai.
f) Kunjungan pembuka
Tim validator membuka pembicaraan dengan “Tuan Rumah”, Memperkenalkan anggota tim yang akan melakukan validasi. Walaupun sepertinya tak perlu karena bukan kunjungan formal, tapi sangat menentukan keberhasilan validasi, suasana persaudaraan dapat diciptakan pada kesempatan pertama. Dalam hal ini juga tim validator dapat mengemukakan keperluan kepada pemimpin lembaga secara lengkap.
g) Pengumpulan Data
Tim validator melakukan tugas inti, yaitu mencocokan apa yang tertulis di dalam profil lembaga dengan apa yang ada di lembaga aslinya. Data yang terkumpul dapat diterapi dengan tolok ukur dan nilainya. Tapi jika belum lengkap perlu di tanyakan lagi. Ada kemungkinan validator minta tambahan responden lain.
Di sela kegiatan validator mengadakan penemuan, baik dengan kawan yang bertugas mengumpulkan data sejenis dari komponen yang sama, maupun lain komponen.
h) Penulisan Laporan
Tim validator menuliskan laporan sementara untuk di kemukakan kepada lembaga pada pertemuan tertutup. Laporan validator berisi dua hal :
1. Laporan umum mengenai pekerjaan tim validator, meliputi :
a. Pelaksanaan tim validator, dan pembagian tugas
b. Pelaksanaan tugas, selesai atau tidak
c. Faktor penunjang dan penghabat pelaksanaan
d. Hal lain yang menjadi catatan pelaksana validator yang akan datang
2. Laporan khusus engenai hasil validasi
a. Teknik atau metode, instrumen, responden, teknik analisi dalam membandingjan dengan standar LPTK
b. Penemuan validasi : komponen yang sudah sesuai dan yang sesuai dengan standar.
i) Menetapkan rekomendasi
Rekomendasi ini berisi tentang kesimpulan yang telah diambil di dalam pertemuan tim validasi mengenai kekuatan dan kelemahan dari komponen LPTK. Berisi juag penemuan tentang keadaan lembaga, kritik dan saran serta harapan yang dapat dilakukan lembaga untuk peningkatan kualitas.
3. Penyampaian Laporan
Rekomendasi yang baru saja dibicarakan itu bukanlah laporan, tapi baru bahan laporan sementara yang akan disempurnakan menjadi laporan final. Maka penyampaian laporan berdasar tiga tahap:
a. Penyampaian laporan lisan tim validator terhadap lembaga
Sebaiknya penyampaian rekomendasi dilakukan dalam pertemuan resmi, yang dihadiri oleh seluruh anggota lembaga yang bersangkutan, sekurangnya staf pimpinan atau pengurus harian, ditambah kepala unit.
Telah disinggung di sub bab menetapkan rekomendasi, dalam kesempatan ini juga pihak lembaga dapat menjawab rekomendasi maupun saran yang disampaikan tim validator, dan hal ahir disusun kesepakatan mengenai hal yang dilakukan lembaga untuk meningkatkan kualitas.
b. Penyampaian laporan tertulis tim validator kepada fasilitaor
Tim validator mendapat tugas dari fasilitator untuk melakukan validasi, kosekuensinya tim validator wajib menyampaikan laporan tertulis pada fasilitator. Berisi seperti pada hal diatas yaitu pada sub bab menetapkan rekomendasi dan tambahan hal di atas.
c. Penyampaan laporan fasilitator kepada lembaga
Walaupun tim validator telah bekerja dan memberi laporan lisan pada lembaga, tentunya dari fasiliator ikut memberi laporan lisan pada lembaga secara resmi untuk peningkatan mutu di masa yang akan datang.

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s