Cerita

Masalah? bagaimana menyikapinya


Assalamualaikum, bagaimana kabar sahabat? sudah lama tidak berkunjung disini. yang punya sibuk sih.. maklum mahasiswa tingkat akhir. eh sekarang sudah menjadi almuni dink. kemarin maksudnya waktu tidak sempat berkunjung kesini.🙂 saya ingin bercerita saat saya mengunjungi kajian di salah satu masjid yang ramai jamaah, yaitu nurul asri deresan Yogyakarta

Berawal dari bad’a isya, tiba-tiba bunyi ponsel berbunyi. Satu pesan masuk dari nomer yang tak bernama tertulis “Undangan Tabligh Akbar “Ya Allah, aku ingin menikah” bersama ustad Burhan Shodiq, sabtu 9 mei 2015 jam 08.00-11.30 @masjid Nurul asri Deresan Gratis SEBARKAN” wah kajian topic yang seru nih, bagus pikirku. Setelah ada niat untuk datang untuk kajian paginya, tak lupa tangan ini menyebar kebeberapa teman yang sekiranya ingin datang, alhasil ada teman yang tidak menjawab dan ada yang menjawab tidak bisa datang.

Pagi mulai datang, suara ayam jago terdengar keras bersaut-sautan seoalah tak mau kalah satu sama lainnya di waktu menjelang subuh.  Alarm lagu “sedekah by.opick” membangunkanku dalam lelapnya tidur, segera diri bergesas menuju kesumur untuk membasuh muka dan berwudhu untuk sholat malam dan menunggu sholat subuh. Waktu pukul 06.45 langsung mandi dan siap-siap akan berangkat, pagi itu senyum selalu mengembang tak lepas menghias wajah. Setelah siap-siap dalam segala hal, lantas pukul 07.30 diri ini berangkat, menghirup udara pagi itu terasa menenangkan dan menyenangkan.

Di perjalanan terbenak akan terlambat, membayangkan betapa ramainya masjid dengan jamaah yang membludak. Sesampainya di depan halaman masjid, ternyata apa yang dibayangkan tidak terwujud sama sekali, pagi itu waktu menunjukan pukul 08.05 dan tampak sepi halaman depan masjid, hanya ada beberapa motor di depan halaman masjid dan lantutan suara merdu al-Quran surat “Ar-Rahman”. Meskipun begitu, tak apa bibir ini tetap akan memberikan lengkungan keatas memberikan senyuman sumringah. Setelah mengisi daftar hadir, langsung niat untuk melihat-lihat papan informasi tidak bisa dibendung, ternyata sudah ada beberapa jamaah kajian yang sudah datang, baik ikhwan maupun akhwat.

Kajian dimulai pukul 08.30, itupun masih disi oleh sang moderator yang menyampaikan beberapa pengumuman dan beberapa hal yang sekiranya masuk pada tema kajian, dikarenakan sang pengisi Ustad. Burhan Shodiq belum hadir, karena beliau masih dalam perjalanan menuju jogya dari solo. Tak mengapa sang moderator sanggup memberikan penyampaian yang menarik, sehingga waktu menunggu tak membosankan. Ada beberapa hal yang disampaikan oleh sang moderator, yang menurutku cukup menarik untuk menghilangkan rasa kebosanan jika menunggu tak melakukan apa-apa. Beberpa hal yang disampaikan moderator menurutku penting saya sampaikan disini karena memang tujuan saya menulis disini dari awal yaitu ingin berbagi dan memberikan manfaat yang baik untuk para sahabat.

Hal-hal yang disampaikan sang moderator mungkin tidak saya sampaikan secara rinci, namun akan saya rangkum agar para sahabat mudah dalam memahaminya. Diawali dengan sang moderator menyampaikan bahwa menikah itu bukan untuk bahagia tetapi untuk membahagiakan pasangan. Sudah jelas, setiap manusia yang kelak menikah pasti menginginkan kebahagia dalam membangun mahligai rumah tangga. Menginginkan nasib dan masa depan yang cerah, namun perlu diketahui, bahwa menikah tidak hanya mengharapkan datangnya kebahagia, tetapi berusaha mewujudkan kebahagiaan tersebut dengan segala cara yang tentunya baik dan benar. Sepakat? Ya, kalau saya sendiri sangat sepakat terkait hal tersebut.

Kemudian sang moderator menyampaikan bahwa setiap manusia pasti mempunyai masalah, karena tanpa masalah pasti bukan hidup namanya. Masalah sendiri merupakan tantangan hidup yang memang harus ada dalam suatu kehidupan, dan untuk menyelesaikan hanya ada cara yaitu bagaimana kita menyikapi masalah tersebut. Dalam kesempatan tersebut sang moderator memberikan empat hal dalam menyikapi suatu masalah yang pertama yaitu menyikapi dengan marah, ada masalah, sediki- sedikit marah, menyelesaikan dengan emosi dan dengan amarah yang memuncak dikepala.

Hal yang kedua dalam menyikapi suatu masalah yaitu menyikapi dengan sabar, sabar itu berdamai dengan hati sendiri, menikamati apa yang sudah terjadi baik itu berita buruk ataupun berita baik, dan mau memahami atas keterbatasan kemampuan seseorang, kemudian hal ketiga menyikapi masalah dengan Ridho. Ridho disini yaitu mau menerima dan yakin apa-apa yang terjadi sudah menjadi ketetapan oleh Allah Swt. Terakhir, hal menyikapi masalah dengan bersyukur, bersyukur merupakan tingkatan paling tinggi dalam menyikapi masalah dibandingan ketiga hal yang terlebih dahulu disampaikan, bahwa yang dimaksud menyikapi masalah dengan bersyukur yaitu mau mensyukuri nikmat baik dan buruk dan yakin atas kehendak dan pemberian oleh Allah Swt.

Alangkah, baiknya jika kita semua dapat menyikapi masalah berdasarkan urutan yang keempat atau terakhir, hal itu merupakan sikap yang paling Allah Swt paling sukai, namun jika hal tersebut belum mampu kita raih, meskipun pasti ada tahap untuk belajar kearah sana. Minimal dalam menyikapi masalah kita berada pada tahap kedua yaitu menyikapi masalah dengan bersabar.

Mungkin ini dulu yang bisa saya tulis, lanjut esok ya untuk isi tausiyah dari beliau. biar pada penasaran apa isi di dalam sebuah tema “Ya, Allah aku Ingin Menikah”🙂 see you. assalamualaikum

Silahkan tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s